Monday, 30 December 2013

Cerita Perempuan di Birai Katil

Ruang ini garau dengan vaginaku
yang kokong terbatuk di birai katil,
sambil ronyok ringgit yang kau
lantun ke muka ku,
ku kutip senyum satu-persatu.

Apa sebegini sial sebegitu jalang,
payudara dan tubuhku kau
pandang?

Rezeki ku tak suci kau bilang,
Kopi ais di warung kau sedut jam
3 petang?

Jiwanya terlimpah didih dengan nafsu,
dan masih aku kupu hitam yang engkau tunggu,
tapi aku hanya maukan ringgitmu,
buat saku sekolah anak-anakku.

Maka siapa yang lebih anjing,
aku atau kamu?

Tuesday, 17 December 2013

Kamu Yang Disampahkan

          Ia umpama kamu sedang berlari, berkejar ke lapangan terbang, untuk meluahkan isi hatimu dan menghalang dia pergi. Mengungkapkan kata-kata tulus dan jujur, agar dia mengubah keputusannya. Kamu tidak cuma bersila di hadapan televisyen waktu ini, bukan hanya leka dengan news feed facebook maupun tweet kawan, atau membaca buku untuk kau kejar sasaran bilangan buku tahunan kamu di Goodreads. Sebaliknya kamu sedang memecut laju dengan skooter yang kamu pinjam dari rakan serumah kamu, kerna dalam hati kamu yakin, dia merasa getaran jiwa yang sama sepertimu. Kamu fikir ia berlarutan tidak terungkapkan. Kononnya di persaatan akhir ini, kamu mau berdiri jadi jantan.

          Hakikatnya memang.

          Memang kamu sedang berpeluk tubuh. Kamu sedang terperosok di sudut kamarmu, dengan tangisan dan gelimpangan ronyok kertas dan suratan yang gagal terutus.

          Kamu lebih milih untuk berkhayal, dan menipu diri, memujuk hati yang pedih, bahwa saat ini, kamu sedang berlari untuk jadi lelaki pemberani demi cinta kamu padanya. Kamu lebih memilih menghelah hati kamu bahwa cinta ini berlarutan tak terbicarakan. Realitinya kamu juga tahu tepuk yang kamu dengar selama ini adalah kedua tanganmu sendiri.

          Deru pesawat melewati langit dan menggegar ruang batinmu, demi sebuah cinta yang disampahkan.

Friday, 29 November 2013

Kita Ini Insan Kelakar

Bayangkan kau sebagai sosok yang terkenal dan dikagumi ramai,
Bayangkan kau seorang terpelajar dengan sekurangnya pemegang sarjana,
Bayangkan kau sentiasa mempesona orang dengan tuturan kau yang merdu,
Bayangkan kau memandu kereta yang mampu kau bayar lebih RM600 sebulan,
Bayangkan kau bergaji tinggi sebagai golongan professional dalam masyarakat,
Bayangkan kau membesar dalam sebuah famili yang terampil dan murni,
Bayangkan kau bijak meramah dan tiada apa yang jelek tentang sifatmu,
Bayangkan kau bertubuh langsing, tegap, kurus  dan sasa,
Bayangkan kau berasa indah di hadapan cermin dan maunya tampil di hadapan orang,
Bayangkan kau cantik,
Bayangkan kau bijak,
Bayangkan kau kaya.

Bayangkan.

Mesti dia sukakan kau,
kan?

Kita ini insan-insan kelakar.

Wednesday, 13 November 2013

Pensyahdu Aksara

Perlukah aku menyimpan seurat janggut putihmu,
Untuk azimat syirik kemerduan tulisanku?

Sosokmu ku puja,
tapi sebenarnya aku tak pernah ngerti -- terbodoh dan tertuli.

Pinjamkan aku hikmat,
redhakan aku mitasi tiap lenggok katamu yang murni,
agar baitku kembali bernyawa lagi.

Di celah-celah bangunan buku,
Dan lemari-lemari masif gedung ilmu,
Disitu-aku terlihat kau diam menekuni,
Berjalan, berhenti, berjalan dan terhenti.

Sungguh,
aku terkenang karya agungmu "Dalam Librari",
dan aku senyum sendiri.

Anak kecil ini tiada jiwa berani untuk dekati.

Aku tak sepertimu,
yang masih bernafas sebelum dan selepas kolonial datang dan pulang,
yang masih erat menggenggam pensil walau telah bengkak jarimu diketuk,
aku juga tak pernah mensyahdukan apa-apa sebelum bangsa kita dungu kembali.

Sungguh,
aku terlalu ingin memelukmu,
menyantunimu sebagai cucu bangsamu,
Namun bila ku pandang semula di tempat kau berdiri tadi,
kau telah hilang dan pergi.

Lantas puisimu ku baca lagi.

Wednesday, 30 October 2013

Why You Lose The Race

You spend too much time thinking. You wasting too much time analyzing. You think you're being careful and delicate.

But you are just backdrifting.

And in the end, the winner is the man who can find the yin and yang of thinking and doing.

Wednesday, 9 October 2013

Tweet Dari Gadis (Cuma Siluetto)

Kau adalah wajah-wajah,
yang kau sindiketkan untuk diratah mata,
yang kau lacurkan untuk sebuah perhatian,
demi seuncang puji dan suka.

Kau adalah suara-suara medioker,
dan figura-figura amatur,
yang kau tari dan lunakkan penuh miskin,
menjelir dalam batin itu bakal viral.

Kau adalah jiwa-jiwa nan hilang,
dan kosong ;
laksana bilik berjendela tanpa langsir,
laksana debu yang terapung,
dalam rumah usang yang tinggal,
tidak berperabot,
cuma siluetto.

Cuma siluetto.

Friday, 4 October 2013

Hujan

Kalaulah ku mampu tangkap hujan,
akan ku kirimkan ia sebuah salam,
agar disampaikan pada setiap lorong jalan,
yang setia dibasahinya dengan tulus dan damai.

Kalaulah ku mampu tangkap hujan,
aku mahu dia sampaikan berita,
dari jendela orang yang jiwanya kesunyian,
bahawa mereka bukan keseorangan.

Kalaulah ku mampu tangkap hujan,
akan ku peluk ia dengan dingin tubuhku,
tanda terima kasih jadi peneman,
mengisi luruh hati dengan musiknya yang indah.

Kalaulah ku mampu tangkap hujan,
akan ku kurung dia dalam balang kaca,
melihat imbasan kenagan yang ia simpan,
tak bisa aku lepaskan.

Thursday, 19 September 2013

Hakikat Seksi Orang Johor

Seksi orang Johor,
dalam sukma aku rindu.

Menjadi salah satu,
berdiri seperti itu,
melihat identikit,
andai aku mampu ketawa dan berkata,
"aku orang Johor".

Seksi orang Johor aku mahu.

Dalam senyum aku fikirkan,
Seksi orang Johor.

Jemari ini kupetik gitar,
tak sama haruslah tak sama,
jika aku orang Johor,
sumbangku itu seksi,
seseksi mu orang Johor.

Tubuh ini kutari-tarikan,
mana mungkin tak cakna beza,
langkah satu dan langkah dua,
sopak sana dan sopak sini,
kalau aku orang johor,
itu semua seksi.

Jika aku mampu menulis,
haruslah tak sama,
jika mampu aku kata,
"aku penulis Johor",
walau sampah yang engkau baca.
seksinya itu ada.

Aku hanya mampu mendamping,
merayap menginginkan sepertimu,
mengendeng bagai ulat bulu,
bodoh bagi kamu,
aku tak perduli,
orang Johor itu seksi.

Hei, kau yang disini!
tak perlu sengih-sengih itu,
aku tahu kau tak ngerti.

Thursday, 5 September 2013

There Is Something About Us

Be it as how sexual predator a man could be,
in the end,
they always find one girl that he feels most comfortable with,
one girl that he could always treat as a best friend,
one girl that he could think the most less sexual fantasy with --
to be his ultimate love companion.

But the problem is,
every now and then,
a girl always need that something,
the heat, the feel of passion, that sexual attractivity inside of man,
so she could fall in love with him.
And be it as how good a man can treat her,
if he doesn't have that something,
friend, will be friend.

And all this thing is always hardly noticed,
by you and by me.

Monday, 2 September 2013

Puisi Buat Hassan

Aduh sayangku Hassan oh Hassan,
dijemari tanganmu telah kau pegang bulan,
dan kau cuma ngarangkan lagu buat Ani,
menghias mahligai menanti Sazali.

Tapi bunga cinta yang disunting tanpa restu,
melahirkan penyangak besar dalam rumahmu.

P/S : Saya bakal pos hadiah anda minggu ini! INSYALLAH! :)

Saturday, 31 August 2013

Pertiwiku Bebas

Pertiwiku bebas,
dibawa terbang keping cemara,
yang disalut darah pendekar dan panglima,
dan dalam cerita nan kita jahil hujung pangkalnya.

Pertiwiku bebas,
dari diperkosa jasadnya,
dengan laung-laung suara merdeka,
mewajakan semangat fasakh dari mereka,
kini kami jadi balu,
dan dia duda bergaya.

Kami buta bukan kerna cacatnya mata,
bukan kerna padamnya obor cahaya,
tapi kerana kau,
yang sering berahsia -- siapa sebenarnya Ibunda.

Terlalu banyak buku disebak,
terlalu banyak cerita dijelak,
telah diselami pelbagai versi,
tinggal milih kanan dan kiri.

Lihat kemataku kau tidak kan jumpa api,
cuma muntah-muntah kosong yang telah kau suap tempoh hari,
yang kalau badang menjamahnya pun ; bakal ajal pucuknya,
aku tahu kini kau sepastinya bangga.

Katanya pertiwiku kini bebas,
dari diperkosa jasadnya,
cuma darah pendekar dan panglima aku kenangkan,
dan semalam aku mendapat berita --
cuma jasadnya saja.

Wednesday, 28 August 2013

Tangan

Ibarat pelekap,
lima pasang setiap satunya,
bagai reseptor-reseptor halus.

Jemari-jemari,
menari mencipta sepasang tangan.

Tangan untuk merasa,
bukan hanya segala berjasad juga abstrak.

Tangan tempat kita lempiaskan,
tiap ingin, tiap kuriosoti,
tangan itu hamba naluri.

Bila cinta diadun suka,
bukan hanya hati galak menari,
jemari juga ikut kepingin serta,
mendesak kita menyentuh segala.

Dihujung jemari ada emosi,
ada kuasa tak terjangkaukan,
ada kasih sayang selalu tak terlihat,
ada keindahan dan irama.

Tangan itu kadang nakal,
degil payah dikawal tuannya,
kerna tangan itu berakal,
tangan itu bernyawa.

Tangan ke tangan itu cinta,
dua tangan bagi jasad lainnya itu anugerah,
berpimpinan itu sukma terindah.

Friday, 9 August 2013

Aidilfitri As A Pearly Gates

What is Syawal means to you?
The way you call it, Hari Raya Aidilfitri, Eid Mubarak or anything.
What does that means to you?

Yes, your own personal definition.

We always heard that the month of Syawal is the month of victorious for Muslims. That is what we heard. But when you grow older, you'll find a derivation in everything you heard, read, or learn. You will make everything distinctive by your means, without drawing any contradictions with the fundamentalist statements.

To me Syawal (especially the first day of Syawal) is like a gate. A gate that you reach, after a month of walking, through the road called, Ramadhan. The road of Ramadhan is full of thorns, because along the road, you can find lots of trees. And the trees give us a delicious ripe juicy fruits that you can pick anytime you like, if you work hard enough to climb it.

The exact question I ask myself on the first day of Syawal is,
"Did I work hard enough to pick the fruits from the trees, or I just hurt myself by all its thorns?"

And when you are at the pearly gates, the moment you make your first step to the month, you will get the answer.

Do you feel reborn, or it is the same old you?

In the preach after Aidilfitri Prayer this morning, the Ustaz said,
"Ramadhan seharusnya dirindui, tetapi Aidilfitri seharusnya disapa sahaja..".

P/S : Scroll down a little lower, look at the bottom right, and you can ask anything in the box. 

Selamat Hari Raya, maaf zahir batin if any of my poem or entry offended you. :)

Monday, 29 July 2013

Lelaki Cemerkap

Apa lagi boleh kau harap,
dari lelaki cemerkap,
selain dari punah -- dan ranap.

Malam dia gentayang,
siang mengera sumbang.

Tiap gerak ada yang pecah,
tiap kata ada yang berdekah,
selalunya bikin orang susah.

Mimpinya selalu indah,
tinggi awan tak cecah,
dimata orang,
kecil.

Apa juga boleh kau harap,
dari lelaki cemerkap,
yang tak pandai banyak bercakap.

*pagi ini telah saya temui tulisan-tulisan orang yang didalamnya ada "saya". Bukan dari segi kata, tetapi ianya "saya". Buat pertama kalinya saya tidak ngerti apa untuk dirasa. Marah, atau bangga?

Friday, 19 July 2013

Ramadhan Yang Dulu

Bisik-bisik dari celah dindingan,
menggetarkan aku.
Tentang perkara yang tak terjelaskan -- ngeri,
jembalang syaitan, apa yang kau bincangkan?

Sayup azan pertama satu ramadhan,
melupuskan segala suara misteri,
tiba-tiba aku berdiri jadi pemberani.
Kusangka mereka habis digari senja tadi.

Botol-botol kosong,
kertas-kertas dicacak melambai ditari angin,
gitar-gitar bergelimpangan,
tidak selera dicabul sepanjang tiga puluh hari lagi,
semuanya bersinar dipancar mentari pagi
dari jendela yang berdentangan kuali warung Cina dibawah.
Aromanya kadang menggoda -- terjeluak aku menyangka itu mungkin babi.

Kemanisan malam aku merasa,
dengan juadah serba sederhana,
dan terawih berkah pada musolla Pulau Sebang,
menapak ditemani langit dingin yang tenang.

Wajah-wajah tua yang menjeling,
kipas usang yang merengek berputar,
karpet keras tempat dahiku mencium,
dan moreh cuma bercangkiran teh.

"Anak siapa?", dia bertanya.
"Bukan orang sini.", aku berkata.
Dan dalam senyum tawar,
aku tahu dalam hatinya, "Anak muda ini telah lama hilang.."
Aku hirup kembali teh panas itu dengan mata bundar,
apakah aku ini terlalunya lut sinar..

Jauh mana telah aku menyimpang,
dari segala keindahan nian,
dari kemanisan budi keharuman kasturi,
pemisahnya tidak pernah lebih dua belas bulan.

Jika ditanya adakah dalam jiwa ini ada rindu,
aku kata -- biarkan aku dengan Tuhanku.

Monday, 15 July 2013

Tyler Durden's Speech

"Advertising has us chasing cars and clothes, working jobs we hate so we can buy shit we don't need. We're the middle children of history, man. No purpose or place. We have no Great War. No Great Depression. Our Great War's a spiritual war... our Great Depression is our lives. We've all been raised on television to believe that one day we'd all be millionaires, and movie gods, and rock stars. But we won't. And we're slowly learning that fact. And we're very, very pissed off."

- Tyler Durden (Fight Club, 1999)

Wednesday, 10 July 2013

Mujahadah

Kelmarin dalam tawwadu' ku hirup tiap makna maqasid yang terpapar,
Sebelum alpa semalamku menari indah dalam percikan serakah,
dan hari ini aku sembamkan wajah bermandi bening darah..

Ya Allah,
mahukah kau menerimai ku lagi,
walau esok ku tak mampu berjanji,
bahwa lusa mujahadah ini masihku terunai.

Monday, 24 June 2013

A Gift

Allright listen up motherfathers.

Lets get things straight.

10th of July is my birthday. So I think I wanna give a gift to you.

Yeah, you. Whoever read this. Friends, enemies, ghost, prostitutes.. whoever lah.

So just send me..

1) Your address.
2) Your name (phone number)

You can give me this detail in the comment, or you can email me at..

aepieniuswakelippus@gmail.com

The conditions are

1) I pick the presents.
2) Accept it with a smile.
3) No complain.
4) The deadline for you to submit your detail is at 9th of July,2013.
5) It is as simple as that.

This is serious.

SPREAD THIS ENTRY!!!!

Take care, lover.
:)

Sunday, 2 June 2013

Seribu Purnama

Dalam purnama seribu bulan,
Laily berlari mengejut aku.
Bercerita tentang Juwita,
Berseloka telah ditemuinya sebuah makna,
Tentang tujuan hidup yang kelmarin aku persoalkan.

"Kita bakal ke syurga!
Lekas, bangunlah!
Kita bakal ke syurga!"

Menonton cahya wajahnya,
Buat aku percaya,
Kami benar-benar bakal ke sana.

Johor Bharu, 2 Jun 2013

Friday, 31 May 2013

Aku Cabar Kau

Aku cabar kau!

Anak jantan, pahlawan, pendekar,
para tak endah tuhan,
Tinggalkan Tuhan satu hari,
Kembara ke bumi asing dengan dua kaki.

Aku cabar,
bila nyawa dihujung halkum,
Kau tak terlarut dalam giur doa.

Saturday, 25 May 2013

Macam (Kosong Yang Sampai)

Macam jutaan sperma meluncur ke ovum,
Macam penguin bermigrasi ke antartik selatan,
Macam sesakan mobil lepas hijau isyarat neon,
tapi tiada yang sampai.
Semua sperma kelemasan dalam likatan,
Semua komuniti penguin mati kebuluran,
Semua kereta berantakan kecelakaan.

Macam itu juga neuron aku,
Kosong yang gabung,
Semuanya hilang di tengah jalan,
Dibaham porno diejakulat syaitan.

Monday, 20 May 2013

I Remember

I wanna hear,
what you have to say about me.

Hear,
if you gonna live without me.

I wanna hear,
what you want?

I remember December.

~Damien Rice, "I Remember". (2002)

Saturday, 11 May 2013

The Idea of Racism

Humans, just what are they?

Allright. Skip the lame intro question.

I mean, just how you are differentiating them?
Our blood is all red you said. We are born equal you said. Races doesn't mean anything you said. I couldn't agree more. But, based on that you're telling me we are all completely the same. Stress out the word 'completely' there, because I'm quite lazy to have it bold. And that is when I start to contemplate.

"Completely the same".

In what context? I believe that races don't mean anything, in a context of superiority. No race should be treated better than the other. If that is what you mean, I don't have any objection. But yet again, is that what you mean? Or you have never explore your own meaning of anti-racist slogan that you hailing about. I don't know.

Lets make a 'lil twist without a shout here.

I went into the pet store last weekend, and one of the salesgirl handed me a pamphlet. The pamphlet was about dogs. She smiled, I smiled. Well, I don't really like dogs, but I'm not a cat person either. I'm more fond to panda. It said there in the pamphlet that there were 3 kinds of dogs that they sell. Poodle is kinda cute. It said there that poodle is easy to train, intelligent, but always have a healthy problem. Balance. Then there was Shar Pei, the dog that the breed history is from China. Ugly. Very ugly. Nothing to look about. But yet again the pros were they are very clean, easy to train and mature very fast. But what really caught my eyes was the Japan breed dog, Akita Inu. Gosh they are so handsome. With the brown fur, elegance physic. I felt like grabbing one of them right in the moment. But, hey. I have a second thought when I read the contras that they are difficult to raise, often bark with no reason, hard to tame and very aggressive towards strangers. In fact I have a third thought, when I realised that I cannot pet any dogs since my religion forbid me to do so.

But that is not the story anyway. When I walked out the door of the pet store (which don't sell any panda), I tried to relate what I read in the pamphlet with the scenario of my country.

We have a multiracial citizens. Same as dogs. They have lots of races. But what is racism?
I never gonna quote any kind of literature review here. Because when we talk about facts we sounds reasonable and intelligent, but we have lost our ability to be human. It is about human can think. And quoting literature review is in the same degree of throwing facts. Here you don't expect anybody's facts, but my fact.

In my country, you always can hear someone say,
"All Chinese is a cheat. They like to cheat people in their business. We must be careful of them!"
Or,
"Malays are lazy. Don't ever hire them!"
Or,
"Indians' tongue is like a zig-zag puzzle! I just cannot understand what they are trying to say! And they like to spread rumors!"

Is all that are racist statements?

How about these?

"Chinese are hardwoking. They will give you 100% commitments if you give them any work."
Or,
"Malays are very well-mannered. They are kind and caring too."
Or,
"Indians are very friendly. You can never find any race in Malaysia that always smile to you like Indians."

Now is that are racist statements?

If you ask me, I will say yes. It is a racist statements. And I will also say that the two statements are true. To me racist, is when you have a certain sentiments in a certain race. They say that sentiments is not good. We should kill all the sentiments of any race, they said. Just how it is possible? Sentiments is a characteristics that long known and long observed in one particular race. It also means that when you say you want to kill sentiments, you want to kill characteristics.

And I ask again, how it is possible for you to kill and wipe out all the characteristics of one race?

We are created with a distinctive characteristics and behavior, externally or internally. Each race has it. Either it is good, or bad.

So how do you cope with this?
One word, love.

Just like you love your lover, you cherish his/her good side, and you try to hold on with his/her side that you hate.

Another word, tolerance.

And I say, negative racism is only an oasis. We can never kill it, since it is not exist.
And I say, sentiments are only a characteristic. We can never wipe them, since each of the races is created differently.
And I say, we can never be the same. But we are equal, with no superiority.

Now, would you excuse me.

I'm gonna catch some panda.

Monday, 6 May 2013

Malam Ini

Bukan aku tak tahu harapan itu,
mau bangkit di subuh meneguk madu,
bernafas dalam hela sunnah,
bermanis-manisan sesuci fikrah.

Bukan aku tak lihat duniamu itu,
pingin bumi ini seluruhnya berserambi makkah,
bercinta-cinta dengan daulah islamiyyah,
bukan aku tak tau harapanmu itu.

Tapi sahabat,
malam ini kita menung sendiri.

Kita kuis tiap keringnya daun mati dengan kaki.
Kita tak perlu jadi jauhari untuk mengerti.

Hati ini patah--mendengar suara ketawaan mereka,
yang tak terzahir dek telinga.
Jiwa ini berdarah--terkenang senyumnya,
lega belaka wajahnya.

Malam ini sayu,kawan.
Malam ini sayu.

Kita bagai tiada madah untuk menjerkah,
Kita yatim wasilah, piatu khalifah..

Kini serasanya segala bait ini begitu murah.
Tiap aksara tiap kata yang kau sebut ini,
murah...

Aku cuma mendengar mereka berdekah. 

Saturday, 4 May 2013

Ini Kalilah! (Sebuah Puisi Murah)

Kawan,
aku tak kesah kau mau berdiri sama tinggi 
duduk sama rendah,
apa yang aku dengar,
"Ini kalilah!"

Lawan,
aku tak hirau kau mau bakar segala bunting
campak ke tong sampah,
apa yang aku dengar,
"Ini kalilah!"

Kita emang tiada tali untuk bergantung,
kita juga tiada besen untuk menadah,
tapi kini kita tau suara kita semua endah,
apa yang kita dengar?
"Ini kalilah!"

Sunday, 28 April 2013

Define

Funny. How we always talk or write about the things that we cannot define.

When you talked about God passionately, and I replied, "define God", you paused.
You wrote about politic vigorously, and I commented, "define politic", you paused.
You declamated the love poem honestly, and I shouted, "define love", you paused.
You said I am weird, and I asked, "define weird", you paused.

You just cannot define it.
You know what we call people that talk a lot of the things that they don't know?
We call them stupid.

Then if this is a multiways communication, right in this moment, I know you might say,
"define stupid".

And you know something?
I might pause.

Monday, 22 April 2013

Kita

Wanita, melihat lelaki-lelaki yang menghinggapi tengkuk mereka itu,
sebagai peluang.

Lelaki, melihat kidung-kidung wanita yang berambakan itu,
sebagai pilihan.

Maka mari ceritakan pada aku,
siapa yang inzal dulu.

Monday, 8 April 2013

Manis

Dengan senyum nan lirik ku buka pintu mobilku untuknya.
Kejutan kukirim jambangan bunga ber-kad kecil sarat ucapan comel.
Mencuit hidung dengan canda diseling ketawaan dari humor ringan.

Lantas menepuk empunya bahu.

Semanis itukah aku?

Monday, 1 April 2013

Mary Jane

Aku bukan Spider Man,
tapi kau ibarat Mary Jane.

Mary Jane ada di lambang dada,
lunak nama dibibir telinga.

Mary Jane mitos mana yang kau cinta,
labah bergaya atau laki lurus berkaca mata.

Mary Jane ku tau kau pingin cinta,
tapi mulutku tak bisa bicara.

Mary Jane oh Mary Jane,
aku bukan Spider Man.


Saturday, 23 March 2013

Aisya Mahu Keluar Dengan Saya?


     Aisya seorang balu yang kematian suami, juga seorang ibu tunggal yang membesarkan anak lelakinya yang berumur 9 tahun, Khairul. Mengerah tenaga sebagai kerani di sebuah syarikat swasta bertaraf sederhana pada siangnya. Lewat pukul lima petang, dia bergegas ke sebuah restoran di pinggir bandar sebagai pelayan. Dua mulut yang harus ditanggungi Aisya, Khairul dan ibunya di rumah memerangkapkan dia dengan rutin harian yang hektik ini. Namun tak pernah dikeluhi Aisya walau senafas, demi melihat isi rumah selalu terlengkap.

    Yang selalu melihat perih Aisya dari kejauhan, menyimpan tiap kasihan, adalah Azri, penyelia syarikat tempat Aisya bekerja sebagai kerani. Saban hari, mata itu memerhati. Hakikatnya, Azri sudah lama "melihat" Aisya. Malah sebelum Aisya bersuami. Azri tidak pernah putus membaikkan hatinya pada Aisya dengan tiap keperhatinan. Azri bukan berpeluk tubuh saja untuk mendekati Aisya. Berkali pelawaan Azri untuk keluar bersama ditolak mentah. Dicuba lagi dan lagi tanpa asanya terputus. Tidak dihiraukan maruahnya sebagai lelaki dicalit-calit. Sampai suatu hari Aisya mewar-warkan dia telah disunting seorang lelaki sebagai isteri, Azri redha bahawa perjuangannya untuk mendapatkan Aisya telah mati. Dilalui hari-hari mendatang dengan gelap, kerana wanita itu amat istimewa di hatinya, walau dinafi saban tahun. Maupun selepas Aisya dinikahi, penafian itu tidak pernah terhenti. Masih diingati berita kematian suami Aisya hinggap ke telinganya, Azri amat simpati. Tetapi Illahi sahaja tahu isi sukmanya bahawa berita itu telah meniup kembali roh pada jasad harapan Azri untuk mendekati Aisya semula.

    Aisya bukanlah wanita angkuh yang tidak menghargai perasaan Azri kepada dirinya. Malah dia sebenarnya amat mengerti. Tetapi kepergian suaminya masih berbekas di hati. Kemalangan yang berlaku itu begitu menyentap setiap ruas sendi hidupnya sekerdip mata. Maka luka yang pedih itu tak bisa hilang begitu sahaja dengan hadirnya seorang lelaki lain untuk membalutinya. Pelawaan demi pelawaan. Kias demi kias. Kedekatan demi kedekatan menyeling Aisya dari tatap mata Azri ditanggunginya tiap hari. Tetapi dia terpaksa juga berpaling dari segalanya. Walau jejaka sebaik manapun Azri, masih, pintu hatinya yang sudah termangga dulu belum dijumpai kuncinya.

    Syarikat itu agak sibuk minggu ini, sehingga kebanyakan pekerja bekerja lebih masa. Dari awal fajar, membawa kepada terbenamnya matahari. Aisya juga terpaksa tidak ke restoran hari ini kerana lambakan kerja yang bertimbunan. Di dalam kamar Azri memerhati Aisya dari celah selakan langsir tingkap. Dia punya misi. Malam ini, Azri sudah membulatkan tekadnya. Dia berkata pada diri, mungkin dia perlu tahu bila untuk berhenti. Dia bakal mengajak Aisya makan malam buat kali terakhir. Jika Aisya masih berdalih, dia tidak akan menoleh kembali. Dia ingin "membunuh" Aisya dari hatinya. Dia bersedia.

    Pekerja beransur-ansur pulang seraya jam menunjukkan pukul 9 malam. Seorang demi seorang pekerja melepasi meja Aisya dan mengucapkan perkataan-perkataan manis sebelum pulang. Aisya juga membalasnya dengan senyuman dan ayat tipikal ringkas. Mengemas-ngemas mejanya yang berselerakan. Azri melangkah perlahan ke arahnya. Aisya menjeling dengan anak mata. Azri berdiri di hadapan Aisya sambil tangannya ditopangkan di atas meja. Aisya dengan senyuman serba salah mendongak melihat wajah Azri yang tenang itu.

"Saya mahu ke restoran Steak House depan sana.. Khabarnya mereka ada diskaun untuk bulan ini sempena ulangtahun restoran mereka yang kesepuluh.. Aisya mahu ikut sekali?", ayat yang telah dikarang selama dua jam di dalam biliknya itu diluahkan selancar boleh oleh Azri.

"Oh yakah.. Hmm.. saya rasa saya tak dapat lah Azri.. saya kena pulang awal, Khairul telefon saya tadi.. Dia kata dia mahu saya tengokkan homework matematik dia.. Lain kali sahaja lah ya..?", satu lagi dalihan. Aisya susulinya dengan senyuman yang diangkatkan keningnya sebagai tanda keterpaksaan menolak.

"Oh.. Ok. Saya faham.", Azri tersenyum hampa dengan sedikit ketapan bibir. Lalu berpaling ke belakang dan berjalan keluar dari pejabat.

    Tiba-tiba Aisya terpanah dengan kekeduan. Dia rasa bersalah tidak semena-mena. Dalam tunduk dia termenung sejenak. Sepintas lalu setiap pelawaan Azri kepadanya saban hari saban kali terlintas dihadapan matanya. Sedetik juga setiap penolakannya pada Azri terpapar dalam mindanya. Dia tersedar betapa selama hari ini lelaki itu telah dikecewakan hari demi hari, tahun demi tahun, tetapi tidak pernah berhenti berharap padanya. Ibarat reflek kinetik yang menujah, Aisya bingkas bangun dan sedikit memekik, "Azri, tunggu!". Azri serta-merta menoleh kebelakang kembali.

Dengan perlahan Aisya berkata, "Mungkin..Khairul boleh selesaikan masalah metamatik tu sendiri dulu.. Saya rasa masih ada masa. Mari, kita makan sama.."

Wajah Azri tidak sedikit pun berkocak dengan kegembiraan. Wajah yang serba tawar seperti hatinya itu membalas, "Tak apa. Saya faham. Awak boleh pulang Aisya. Selamat tinggal."

Azri berlalu pergi dengan sekeping hati yang kosong, tidak tersisa sekelumit pun perasaannya pada wanita bernama Aisya itu lagi. Detak-detuk tapak kasut Azri menuruni tangga semakin menghilang meninggalkan Aisya yang masih terpaku berdiri.

Dalam semi sedar, airmata dari iris Aisya yang digenang berguguran perlahan, dan esakan tangis Aisya memenuhi ruang pejabat yang malap sepi itu.

Thursday, 21 March 2013

Wanita

Kecantikan wanita,
Hanya pada mata,
Tak pernah bermakna.

~ Oktober, 2012. (di sebuah Shopping Mall)

Wednesday, 20 March 2013

Sembilan Harakat

Dalam solat dua raka'at,
terkandung seribu satu maksud tersirat,
awas syaitan pasang jerat,
walad thollin yang cukup nikmat,
dari enam ke sembilan harakat.

Saturday, 16 March 2013

How About The Truth?

I had the experience of sharing thoughts with atheists, agnostics, scientologies and all kinds of people like that.
Well you know they are not a God (or Gods) believer, or a believer of any God that we known today.

Interesting.

Be that as it may,
Actually, they all are kind hearted people.
Full with beautiful attentions.
About spreading love, peace, equality and all kinds of that stuff.

Or I could say,
some of them are way better than us believers in certain aspects of morality.

But one question that they don't really have a rigid explanation,
it is about when I ask,

"How about the truth?"

Yes. The truth.

And that's when their voices get stuck in their throat,
waiting for their brain cells connecting with each other,
to spill out the words for their answer,
to such an abstract, yet the ultimate question.

And while waiting I repeat,

"How about the truth?"

Thursday, 14 March 2013

Quran

"Tempatkan Al-Quran ini di tempat paling tinggi sebagai tanda menghormati darjatnya.."

"Letaklah kalam Allah ini atas almari paling tinggi, takut-takut jika ada yang terlangkahkan.."

"Susunlah kitab suci ini di barisan paling tinggi dalam rak bukumu sebagai tanda makamnya.."

Ya, sungguh kami menuruti tiap lafaz nasihahmu itu, Murobbiku.
Sampai kadang kami tertempatkan, terletakkan, tersusunkan Al-Quran kami di tempat paling tinggi,
sehingga tiada satu tangan pun di dalam rumah kami yang mampu menggapainya.

Lantas lenggok tarannum tiap aksaranya yang berhak berlagu merdu,
Terkubur sepi dalam percikan kosmik-kosmik ayat syurgawi yang membisu.

Sunday, 10 March 2013

Tanggang Kami

Dalam arus ruang dan masa,
Pulanglah tanggang bertemu sahabatnya.

Tiada ayah mau didakap,
Tiada ciuman tangan pada si ibu,
Jadikanlah kami penyambutmu.

Kita bakal dikaliankan,
Disebut-sebut dan disejarahkan,
Dalam lipatan memori sendiri,
Ke utara dari selatan kaki ini berjalan,
Bersama menjunub cahaya bulan.

Pulanglah sahabatku,
Isi lohong hati kami dengan cerita tanggangmu,
Izinkan kami kagumi kederhakaanmu pada cobaan dunia,
Ajari kami jahiti tiap rabak pada kain layarmu itu.

Ini Aku

Renung mataku,
Sentuh bibirku,
Dengar suaraku,
Lihat anatomiku,
semuanya bersatu,
dalam sebuah abstraksi yang tak bisa kau inderakan,
cuma dirasa bermedium bahasa.

Ini aku.